Review Kecil tentang Eklampsia

Eklampsia adalah suatu penyakit di mana terjadi kejang yang sulit dijelaskan penyebabnya pada wanita hamil.
Hanya sekitar 20% di antaranya yang didapatkan tekanan darah tinggi atau pun proteinuria, sedangkan sisanya tidak didapatkan tanda-tanda tersebut.
Komplikasi dari eklampsia adalah kelainan pada otak yang dapat berupa perdarahan, edema, dan herniasi otak, serta gangguan kognitif.
Terapi utamanya ialah magnesium sulfat, akan tetapi dapat menimbulkan efek samping serius berupa gawat nafas.

Mekanisme eklampsia terjadi akibat kesulitan adaptasi pembuluh darah otak terhadap kehamilan, berupa terjadinya autoregulasi yang berlebihan ataupun hilangnya kapasitas autoregulasi pada pembuluh darah otak. Keduanya mengarah pada edema vasogenik.

Pada kehamilan, terjadi peningkatan peroxisome proliferated-activated receptor gamma (PPAR-gamma) yang menyebabkan remodelling arteriol otak. Pada saat bersamaan terjadi pula peningkatan aliran darah serebral. Remodelling ini menyebabkan vasokonstriksi yang tidak dapat mengimbangi peningkatan aliran darah tersebut, sehingga terjadi reaksi edema vasogenik. Edema ini menyebabkan rusaknya sawar darah-otak sehingga memberi akses terhadap zat-zat ekstraseluler yang mestinya tidak memasuki rongga tengkorak, antara lain albumin. Akibatnya terjadi kompresi rongga tengkorak yang menyebabkan gejala neurologis seperti sakit kepala, bahkan kejang.

Pada penderita eklampsia, juga terjadi sekresi TNF-alfa yang berlebihan dari ginjal. Akibatnya TNF-alfa menimbulkan reaksi inflamasi yang menghasilkan masuknya leukosit dalam jumlah besar ke otak, menembus saraf darah-otak yang mengalami edema tadi. Leukositosis inilah yang memicu timbulnya bangkitan kejang.

Terapi utama eklampsia adalah menurunkan tensi secepat mungkin hingga 15-20% mean arterial pressure, terapi cairan, dan pemberian antikejang berupa magnesium sulfat. Magnesium sulfat bahkan lebih efektif untuk menghindari kejang pada ibu eklampsia daripada fenitoin.
Magnesium sulfat bekerja mencegah kejang dengan cara bertindak sebagai antagonis kalsium, sehingga menghambat kontraksi otot polos pembuluh darah dan melindungi sawar darah-otak. Selain itu magnesium sulfat juga bertindak sebagai antagonis NMDA yang dalam konsentrasi tinggi dapat mencegah kejang dalam otak.
Akan tetapi pemberiannya harus disertai observasi ketat karena dapat menimbulkan depresi tonus otot, insufisiensi ginjal, dan gawat nafas.

Keterangan gambar:
Pada ibu eklampsia, terjadi peningkatan kadar PPAR-gamma yang berefek terhadap dinding pembuluh darah sehingga menipis. Terjadi dilatasi pada pembuluh darah di otak sehingga merangsang stress pada dinding pembuluh darah yang potensial menimbulkan ruptur dan perdarahan di otak.

Diagram diterbitkan oleh Cipolla, 2010. Penggambar aslinya masih dicari.

Saya tuliskan ini setelah membaca tulisan Cipolla MJ, Kraig RP yang dimuat di Fetal Matern Med Rev. 2011 May; 22(02): 91–108. http://laurentina.wordpress.com
http://www.georgetterox.blogspot.com

This entry was published on Desember 19, 2012 at 3:39 am. It’s filed under eklampsia, Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Bagaimana pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: