Ooforektomi Bilateral pada Histerektomi untuk Tumor Jinak

Para dokter kandungan di Amerika Serikat cenderung menghindari ooforektomi bilateral ketika melakukan histerektomi pada pasien berusia kurang dari 55 tahun. Novetsky dkk (2011) mengemukakan dalam Obstet Gynecol 2011;118:1280–6 bahwa alasan mengenai komplikasi dari terapi sulih hormon dan ooforektomi profilaksis banyak mendasari sikap mereka tersebut. Ketakutan yang menyebar akibat publikasi penelitian Woman’s Health Intiative mengenai bahaya dari HRT menyebabkan para ginekolog cenderung melakukan preservasi terhadap ovarium ketika melaksanakan histerektomi, sehingga oofarektomi cenderung dihindari.

Total_abdominal_hysterectomyRiset kemudian dilakukan pada wanita-wanita pasca histerektomi yang telah dilakukan oofarektomi pula. Parker dkk (2011) mengemukakan bahwa ternyata, terjadi penurunan risiko kanker payudara dan kanker ovarium pada populasi ini. Namun pada saat yang bersamaan risiko kardiovaskular dan fraktur panggul pun meningkat.

Saya sendiri menilai bahwa masalah risiko kardiovaskular dan osteoporosis pasca ooforektomi ini masih dalam kontroversi. Seperti yang pernah saya tulis di artikel ini, bahwa penelitian Woman’s Health Initiative mengenai HRT ternyata perlu dikaji ulang oleh karena penelitian tersebut hanya mencakup populasi yang tidak bisa digeneralisir, sehingga sulit dianggap sahih. HRT sendiri bermanfaat lebih baik asalkan memang diberikan pada usia awal menopause, bukan setelah 10 tahun terjadi menopause seperti yang diteliti oleh Woman’s Health Initiative.

Saya sendiri menilai bahwa masalah risiko kardiovaskular dan osteoporosis pasca ooforektomi ini masih dalam kontroversi. Jacoby dkk (2011) pernah menulis di sini bahwa antara perempuan yang dilakukan ooforektomi dan perempuan yang ovariumnya dipertahankan ketika histerektomi, sama-sama tidak ada perbedaan signifikan mengenai risiko karidovaskular. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut lagi, berbasis populasi, mengenai perlunya dilakukan ooforektomi untuk menghindarkan wanita pre-menopause dari risiko kanker ovarium dan risiko kardiovaskular pada saat sesudah menopause nantinya.

This entry was published on Januari 10, 2013 at 11:38 pm. It’s filed under Menopause, Tumor ovarium and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Bagaimana pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: