Manajemen Perdarahan Pasca Salin

Perdarahan peripartum, atau hilangnya sedikitnya 500 ml darah maternal akibat proses persalinan, masih menjadi penyebab utama dari kematian maternal dalam lima tahun terakhir. Penyebabnya dapat berupa plasenta previa, yaitu plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan menyebabkan perdarahan masif pada waktu antepartum. Solusio plasenta juga dapat menyebabkan perdarahan peripartum, yaitu terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya sebelum waktunya, menyebabkan ekstravasasi darah ke dalam otot-otot uterus, sehingga terjadi atonia uteri dan DIC. Penyebab yang juga tidak kalah banyaknya dari perdarahan peripartum ialah perdarahan pasca salin, yang dapat terjadi oleh 4T (tone, tissue, trauma, thrombin). Kelainan tonus (tone) dapat berupa atonia uteri. Kelainan jaringan (tissue) dapat berupa retensi plasenta, misalnya akibat plasenta akreta. Trauma yang terjadi dapat berupa laserasi jalan lahir. Sedangkan kelainan thrombin penyebab perdarahan peripartum dapat berupa preeklampsia berat, HELLP Syndrome, solusio plasenta, fetal demise, emboli cairan amnion, dan sepsis.

Saat mendapatkan pasien pertama kali sebagai suatu perdarahan peripartum, maka harus segera dihimpun banyak petugas untuk meresusitasi pasien tersebut (call for help). Selanjutnya dilakukan resusitasi berupa langkah-langkah: 1) mempertahankan airway; 2) memberikan nafas (breathing) yang adekuat; 3) mempertahankan sirkulasi (circulation)
dengan pemberian akses intravena untuk memasukkan cairan penolong seperti infus dan transfusi darah; 4) pemeriksaan komponen faal hemostasis seperti prothrombin timeactivated partial thromboplastin time, dan konsentrasi fibrinogen; dan 5) pemasangan kateter Foley untuk menjaga agar pengeluaran urin tetap sekitar 30 ml/jam.

Ada beberapa agen farmakologis yang dapat diberikan dalam mencegah perdarahan peripartum, antara lain 1) oksitosin 40 unit/500 cc larutan Hartmann dengan kecepatan 125 ml/jam; 2) ergometrin 0,25 mg i.v/i.m lambat; 3) prostaglandin F2 alfa 0,25 mg yang dapat diulangi hingga 8 kali dalam interval 15 menit; 4) misoprostol; 5) karbetosin.

Teknik bedah juga kerap kali diperlukan, seperti penjahitan kompresi uterus, tamponade balon uterus, dan ligasi pada arteri uterina atau arteri iliaka interna, serta kadang-kadang histerektomi terutama pada kasus plasenta akreta. Tamponade balon uterus dilakukan dengan memasukkan balon Bakri dengan bantuan kateter, dan tamponade ini bekerja mencegah perdarahan pascasalin dengan menciptakan tekanan perlawanan di dalam rongga uterus, serta mengurangi perdarahan dari dalam endometrium.

Penjahitan kompresi uterus dilakukan dengan cara B-Lynch. Langkah-langkahnya ialah menusuk uterus sekitar 3 cm dari sudut bawah kanan dan batas tepi kanan dari insisi uterus, lalu keluarkan jarumnya pada 3 cm di atas dan 4 cm dari batas tepi. 2) Jahitkan di atasnya untuk mengompresi fundus uteri pada 3-4 cm dari tepi korneal kanan. 3) Masuki dinding belakang cavum uterus pada ketinggian yang sama dengan tempat masuknya di dinding depan. 4) Jahirkan di belakangnya, penjahitan dilakukan secara horizontal, dan jahitkan di fundus uterus secara anterior dan vertikal untuk mengompresi fundus. 5) Masuki rongga uterus 3 cm di atas dan 4 cm dari tepi pinggir di kiri, keluarlah 3 cm di bawah dan dari tepi pinggir. 5) Dengan kompresi uterus oleh asisten, ikatkan dengan kencang.

Penjahitan kompresi uterus dilakukan dengan cara B-Lynch.
Langkah-langkahnya ialah menusuk uterus sekitar 3 cm dari sudut bawah kanan dan batas tepi kanan dari insisi uterus, lalu keluarkan jarumnya pada 3 cm di atas dan 4 cm dari batas tepi.
2) Jahitkan di atasnya untuk mengompresi fundus uteri pada 3-4 cm dari tepi korneal kanan.
3) Masuki dinding belakang cavum uterus pada ketinggian yang sama dengan tempat masuknya di dinding depan.
4) Jahitkan di belakangnya, penjahitan dilakukan secara horizontal, dan jahitkan di fundus uterus secara anterior dan vertikal untuk mengompresi fundus. Masuki rongga uterus 3 cm di atas dan 4 cm dari tepi pinggir di kiri, keluarlah 3 cm di bawah dan dari tepi pinggir.
5) Dengan kompresi uterus oleh asisten, ikatkan dengan kencang.

Transfusi darah diberikan jika pada penderita didapatkan sebagai berikut: 1) anemia, Hb < 8 g/dl; 2) trombositopenia, trombosit < 75.000; 3) rasio PT : APTT > 1,5; 4) fibrinogen < 1,0 g/L. Komponen transfusi yang diberikan dapat berupa fresh frozen plasma, konsentrat fibrinogen, maupun transfusi trombosit.

Su LL dalam Best Practice and Research Clinical Obstetrics and Gynaecology 2012; 26(1):77-90 membuktikan bahwa asam traneksamat dan faktor VIIa rekombinan juga berperan besar dalam mengobati perdarahan pascasalin. Faktor VIIa mengaktivasi koagulasi Faktor X menjadi Faktor Xa. Faktor Xa bersama faktor jaringan lainnya mengkonversi prombin menjadi trombin, yang kemudian akan mengkonversi fibrinogen menjadi fibrin, sehingga menciptakan hemostasis lokal.

This entry was published on Januari 21, 2013 at 5:52 am. It’s filed under perdarahan pasca salin and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Bagaimana pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: