Kaitan Endometriosis dan Infertilitas

Review dari American Society of Reproductive Medicine (2012) mengemukakan bahwa sekitar 30-50% wanita yang mengalami endometriosis akhirnya infertil. Endometriosis juga menimpa sekitar 1-7% wanita yang telah menjalani sterilisasi tuba. Meskipun kaitan antara endometriosis dengan infertilitas masih kontroversial, namun teori menjelaskan bahwa pada endometriosis terjadi adhesi atau distorsi anatomi panggul yang pada akhirnya memang menyebabkan infertilitas.

uterus-endo-adhesions-largeBanyak teori yang berupaya menjelaskan kaitan endometriosis dengan infertilitas. Adhesi yang disebabkan endomtriosis mengganggu pelepasan oosit dari ovum, atau bisa juga menghambat penangkapan maupun gerak ovum. Pada penderita endometriosis diperoleh bahwa terjadi peningkatan konsentrasi cairan peritoneum yang mengandung sitokin-sitokin, yang mana sitokin ini menyebabkan inflamasi sistemik sehingga terjadi infertilitas. Mereka juga mengalami peningkatan antibodi dan limfosit yang kemudian mengganggu reseptivitas endometrium dan implantasi embrio. Wanita-wanita ini juga seriingkali mengalami gangguan hormonal, misalnya lutinized unruptured follicle syndrome, disfungsi fase luteal, ataupun lonjakan luteinizing hormone yang prematur. Juga terjadi penurunan ekspresi protein yang sebetulnya digunakan untuk sintesa L-selectin, padahal L-selectin ini digunakan untuk melindungi blastokist ketika berimplantasi. Kualitas oosit dan embrio yang dihasilkan oleh penderita endometriosis juga kurang baik, nampak dari perkembangannya yang lamban.

Endometriosis ini masih memerlukan laparoskopi untuk mendiagnosisnya. Laparoskopi juga bermanfaat untuk memperbaiki prognosis kehamilan pada endometriosis stadium I atau II, lebih baik lagi jika pada laparoskopi terapeutik tersebut dilakukan ablasi/reseksi, meskipun angka kehamilan yang ditimbulkan masih relatif kecil. Sayangnya manfaat laparoskopi dalam meningkatkan fekunditas ini belum terlihat nyata pada endometriosis stadium III atau IV.

Beberapa penelitian melaporkan bahwa inseminasi intrauteri yang dilakukan segera setelah bedah laparoskopi pada endometriosis dapat menimbulkan kemungkinan kehamilan sekitar 20%. Fertilisasi invitro sangat menolong bagi penderita endometriosis jika mereka masih berusia 35 tahun, dengan angka keberhasilan sekitar 44,6%; namun keberhasilannya turun drastis hingga 14,9% jika penderitanya melebihi usia tersebut. Bahkan saat penderita-penderita ini berhasil hamil, mereka menghadapi risiko yang lebih tinggi untuk melahirkan prematur, mengalami preeklampsia, perdarahan antepartum, dan operasi Caesar, daripada ibu yang tidak menderita endometriosis.

Jadi, saya menyimpulkan bahwa endometriosis ini merupakan penyakit yang cukup menyulitkan bagi penderitanya, baik untuk memperbaiki kesuburan maupun menjaga kesuburan tadi. Masih perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui solusi dalam memperbaiki prognosis endometriosis, agar infertilitas akibat endometriosis ini dapat terobati.

Review selengkapnya dapat dibaca di sini.

Ilustrasi gambar diambil dari sini.

This entry was published on Februari 1, 2013 at 11:49 pm. It’s filed under endometriosis and tagged , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Bagaimana pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: