Pengobatan Resistensi Insulin pada PCOS

Kejadian sindroma ovarium polikistik (polycystic ovary syndrome, PCOS) sekitar 4-8% pada wanita-wanita usia reproduksi. Penderitanya kerap terdiagnosa saat baru memeriksakan diri karena keluhan-keluhan yang memang banyak terdapat pada penderita PCOS, misalnya sulit hamil, hirsutisme, atau menstruasi yang tidak teratur. Padahal penderita PCOS menghadapi masalah yang lebih besar, yaitu penyakit jantung koroner, diabetes melitus, serta kanker/hiperplasia endometrium yang kerap kali prevalensinya lebih tinggi pada penderita-penderita tersebut.

pcos3Banyak penderita PCOS ditemukan mengalami obesitas, dan sekitar 70% penderita mengalami resistensi insulin. Kejadian resistensi insulin dengan obesitas sekaligus dapat mengarahkan penderita menjadi sindroma metabolik. Resistensi insulin sendiri dapat merusak sel-sel otot jantung, sehingga menjadi tonggak dari patofisiologi penyakit arteri koroner.

Dalam review Michael Traub pada World J Diabetes 2011; 2(3): 33-40, dikemukakan bahwa pentingnya mengetahui resistensi insulin untuk mengetahui risiko sindroma metabolik dan penyakit jantung koroner pada penderita PCOS membuat para peneliti mencari beragam cara untuk menilai resistensi insulin. Salah satu cara yang banyak dilakukan untuk mengevaluasi resistensi insulin ini ialah dengan teknik hyperinsulinemic-euglycemic clamp, yaitu dengan mengukur konsentrasi glukosa pada penderita yang diberikan infus insulin. Cara lain dengan mengukur rasio glukosa puasa dan insulin, di mana rasio < 4,5 mengindikasikan resistensi insulin; namun cara ini belum dinyatakan ideal. Akhir-akhir ini digunakan metode homeostatic model assessment (HOMA), yaitu dengan membagi glukosa puasa dan insulin dengan suatu konstanta. HOMA ini mendapatkan kendala untuk mendeteksi PCOS pada penderita usia remaja karena seringkali pada remaja tidak ditemukan kelainan glukosa puasa.

Modifikasi gaya hidup sangat membantu pengobatan PCOS. Penderita yang berhenti merokok, ternyata mengalami perbaikan hiperandrogenisme dan resistensi insulin yang mereka alami ikut berkurang. Diet dan olahraga juga menghambat progresivitas PCOS untuk mengalami diabetes melitus. Penderita yang berhasil menurunkan beratbadannya hingga 5%, ternyata mengalami penurunan hiperandrogen sehingga turut memperbaiki resistensi insulin yang mereka alami.

Terapi farmakologis yang dapat diberikan untuk mengurangi resistensi insulin pada penderita PCOS antara lain metformin dan golongan obat-obatan tiazolinedion seperti pioglitazon dan rosiglitazon. Namun tiazolinedion ini masih belum disetujui untuk digunakan pada pasien yang masih ingin hamil. Preparat-preparat lainnya yang masih diteliti untuk memperbaiki resistensi insulin antara lain vitamin D dan glycyrrhizic acid.

Saya pernah menulis di sini tentang bagaimana metformin mengobati resistensi insulin pada PCOS, dan alternatif-alternatif preparat farmakologis ini membuka informasi baru untuk terapi PCOS. Tantangan besar saat ini adalah mendeteksi dan mengatasi resistensi insulin pada penderita PCOS usia muda untuk menghindarkan mereka dari penyakit sindroma metabolik dan jantung koroner di kemudian hari.

Gambar diambil dari sini.

This entry was published on Februari 4, 2013 at 8:49 pm. It’s filed under PCOS and tagged , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Bagaimana pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: