Naltrexon untuk Terapi PCOS

Alternatif dalam mengobati sindroma ovarium polikistik (polycystic ovary syndrome, PCOS) selain dengan klomifen sitrat ialah dengan memadukannya dengan naltrexon. Naltrexon ini bekerja mengatur ulang metabolisme sebagai antagonis beta-endorfin. Seperti yang diketahui bahwa beta-endorfin endogen bekerja mengatur fungsi sel beta pankreas dan kontrol glikemik yang mempengaruhi selera makan dan asupan makanan. Dalam penelitian didapatkan bahwa terjadi kerja yang berlebihan dari beta-endorfin pada PCOS. Banyak penelitian menemukan bahwa pada penderita yang diberikan naltrexon, didapatkan penurunan indeks massa tubuh dan peningkatan sensitivitas insulin.

Hirsutisme pada Penderita PCOS

Hirsutisme pada Penderita PCOS

Naltrexon juga menimbulkan efek hormonal karena pengaturannya terhadap sel beta pankreas dapat mengurangi produksi insulin yang berlebihan. Akibat dari penurunan kadar insulin ialah berkurangnya produksi androgen, sehingga mengurangi gejala hiperandrogenemia yang biasa didapatkan pada penderita PCOS seperti hirsutisme dan jerawat.

Naltrexon juga bekerja sentral di hipotalamus dengan menimbulkan supresi opioid tonerOpioid toner ini menghambat produksi gonadotrophin releasing hormone, sehingga efek hormon tersebut untuk merangsang hipofise dalam memproduksi luteinizing hormone pun turut berkurang.

Ahmed dkk (2008) meneliti 30 penderita PCOS dengan memberikannya naltrexon sebanyak 50 mg/hari selama 12 minggu. Sebanyak 10% berhasil mengalami ovulasi, dan sisanya belum berhasil sehingga preparat naltrexon yang diberikan ditambahkan dengan klomifen sitrat dengan dosis 50 mg/hari (yang dinaikkan sebanyak 50 mg/hari lagi setiap siklusnya). Dalam riset yang diterbitkan dalam Hum Reprod (2008): 23 (11):2564-9 itu, terungkap bahwa ternyata setelah diberikan klomifen sitrat, sekitar 70% subjek penelitian berhasil mengalami ovulasi, dan bahkan beberapa berhasil hamil.

Meskipun keberhasilan naltrexon dalam mengembalikan ovulasi pada penderita PCOS ini merupakan kabar baik, akan tetapi penggunaannya pada penderita PCOS yang ingin hamil tetap memerlukan kehati-hatian. Kemungkinan bahwa naltrexon mampu menimbulkan teratogenitas pada janin masih belum dapat disingkirkan. Di lain pihak, saya masih mendapatkan bahwa naltrexon ini masih merupakan off label drug. Statusnya sebagai antagonis opioid akan membatasi distribusinya dalam upaya mengatasi PCOS.

This entry was published on Februari 6, 2013 at 10:15 am. It’s filed under PCOS and tagged , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

7 thoughts on “Naltrexon untuk Terapi PCOS

  1. Mba vicky mau tanya, apakah bisa pemberian metformin seperti di postingan sebelumnya tanpa klomifen sitrat (+naltrexon)? Klo di postingan kmrn ttg metformin sih aku nangkepnya bisa. Kebetulan aku lg terapi pcos.

    • Ya, Ike. Metformin, klomifen sitrat, dan naltrexon memang sama-sama dapat dimanfaatkan untuk terapi PCOS, tapi tergantung indikasinya.
      Metformin digunakan pada penderita yang didapatkan obesitas atau resistensi insulin.
      Klomifen sitrat diberikan untuk penderita yang memang sulit hamil (subfertil), karena tujuannya adalah memicu ovulasi. Adapun naltrexon digunakan untuk merangsang ovulasi pada penderita PCOS yang masih kesulitan mengalami ovulasi meskipun sudah diberikan klomifen sitrat (namun obat ini belum digunakan luas karena masih dalam penelitian).

      Jika penderita tersebut obese, tetapi tidak merasa “kemandulan”-nya itu mengganggu, maka pada penderita tersebut dapat diberikan metformin saja tanpa disertai klomifen sitrat. Namun jika penderita memang ingin hamil, maka metformin saja tidak akan bisa membantu mengembalikan kesuburannya bila tidak disertai klomifen sitrat (+ naltrexon).

      Apakah Ike kesulitan ovulasi? Perkiraanku sih, dari penampakan foto, Ike tidak obese ya. Semoga PCOS-nya bisa pulih ya.🙂

      • Iya ovum ku kecil2 walau sudah waktunya ovulasi. Klo untuk IMT 20, GDS dbn, tp ternyata TTG meningkat di 1 dan 1 1/2 jam. Yang bikin parah kayaknya minuman the dalam botol yang rajin aku konsumsi 1 thn kemarin. Makasih ya mba🙂

      • Oh iya, betul, kayaknya Ike kena resistensi insulin, bisa diperkirakan dari kenaikan TTGO-nya. Apakah dapet metformin, Ke, atau dapet agen sensitisasi insulin yang lain?

      • Dapet mba, 1 bulan ini aku dikasih Metformin dan Profertil. Dikasih ovacare sama isoprinosin. Sayang deh TTGO ini sebenarnya udah 1 tahun yg lalu tesnya, tp beberapa SpoGnya bilang ga ada masalah. Aku juga ga mikir ke pcos karena aku ga ada gangg haid. Sampai akhirnya memutuskan ke KFER.

  2. elisa maria on said:

    dr. vicky saya mau bertanya..saya dr.elisa, yang kebetulan kena pcos, dan saya sudah pengobatan hampir 2 tahun belum berhasil dari metformin, cc, gonal f, insem….
    kalo saya mau mencoba naltrexon.kira2 pas kapan saya meminumnya dan berapa lama?

    • Dr Elisa, terima kasih sudah ditanyai.
      Saat ini naltrexon masih dalam penelitian untuk digunakan secara luas di Indonesia. Saya belum tahu kapan kira-kira naltrexon ini akan dimasukkan ke dalam prosedur tetap untuk pengobatan PCOS.
      Di sekolah saya, penderita PCOS yang gagal dengan terapi metformin dan clomiphene citrate akan disarankan untuk dilakukan ovarian drilling, bukan naltrexon.
      Demikian, semoga bisa membantu dr Elisa🙂

Bagaimana pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: