Hepatitis B dalam Kehamilan

Sekitar setengah dari penderita infeksi hepatitis B ternyata terserang melalui rute perinatal atau terkena di masa kanak-kanak. Sebanyak 15-40% penderita berisiko berkembang menjadi sirosis hepatis, kanker hepar, atau gagal hati. Terjadi lebih banyak kelahiran prematur pada ibu-ibu dengan hepatitis B.

Pada kehamilan, secara fisiologis dihasilkan lebih banyak Th2 untuk mencegah efek kehadiran fetus sebagai pemicu alergi allogenik pada ibu. Produksi Th2 yang meningkat ini ternyata menjadi supresor bagi pertahanan terhadap DNA virus hepatitis B, sehingga ibu menjadi lebih rentan terhadap virus tersebut.

Peta Global Penyebaran Hepatitis B.Indonesia merupakan daerah endemis hepatitis B dengan prevalensi sebesar > 8%.
Sumber gambar: http://najms.net

Peta Global Penyebaran Hepatitis B.
Indonesia merupakan daerah endemis hepatitis B dengan prevalensi sebesar > 8%.
Sumber gambar: http://najms.net

Penelitian membuktikan bahwa ibu dengan hepatitis B yang tidak terobati lamivudin pada trimester 3, sekitar 45%-nya berisiko mengalami flare atau peningkatan ALT selama enam bulan setelah melahirkan nantinya.

Borgia dkk (2012) menulis dalam review mereka pada World J Gastroenterol 2012 September; 18(34): 4677-83 bahwa HbeAg yang positif pada ibu berkorelasi positif dengan tingginya angka transmisi virus hepatitis B dari ibu menuju fetus melalui sel endotel kapiler vili-vili. Tidak adanya ekspresi HbeAg dapat diartikan sebagai rendahnya viral load dari Hepatitis B pada ibu dan rendahnya kemungkinan transmisi vertikal intrauterin.

Terdapat banyak obat antiretroviral yang bermanfaat untuk mengobati hepatitis B. Lamivudin masih dikategorikan C, dengan terbukti efek teratogenik pada studi hewan. Telbifudin dan tenovofir telah dikelompokkan sebagai kategori B, belum terbukti bisa menimbulkan teratogenisitas pada studi manusia. Interferon dikontraindikasikan pada kehamilan. Pada ibu hamil dengan fibrosis hepar, obat harus dihentikan untuk mengurangi risiko gagal hati.

Dalam riset yang memeriksa 190 ibu hamil dengan HbsAg (+) dan HbeAg (+) dengan viremia tinggi (> 106 kopi/ml), telbivudin diberikan kepada kelompok intervensi, ibu-ibu berusia kehamilan 20-32 minggu yang pengobatannya berlanjut hingga usia minggu ke-4 post partum. Outcome menunjukkan HbsAg(+) pada neonatus yang dilahirkan, hanya 6,3% pada kelompok intervensi, jauh lebih sedikit daripada kelompok kontrol yang mencapai 30,4%. Pada ibu di kelompok intervensi, kejadian flare pascasalin hanya 7,5%, kurang dari kelompok kontrol yang kejadian flare-nya 18,5%.

Pada dasarnya, semua ibu hamil sebaiknya ditapis untuk hepatitis B sejak trimester pertama. Jika hasilnya negatif, maka ibu tidak perlu divaksinasi rutin. Jika ia positif, sebaiknya segera ditentukan status penyakitnya. Jika hepatitis B-nya sangat aktif (ditandai tingginya ALT dan viremia), maka terapi harus dimulai sesegera mungkin. Namun jika ALT dan viremia rendah, maka terapi tidak perlu diberikan agresif meskipun ibu tetap harus diwaspadai akan terjadinya flare selama hamil dan beberapa bulan pasca salin.

HBV DNA sebaiknya dihitung pada ibu hamil yang terinfeksi hepatitis B pada usia kehamilan 26-28 minggu. Jika viral load melebihi > 106 kopi/ml, profilaksis antiviral dapat diberikan mulai usia 28-30 minggu.

Penelitian menunjukkan bahwa pada kehamilan hepatitis B yang diterminasi dengan operasi Caesar, transmisi maternal hanya menimpa 10,5% sampel. Namun pada kehamilan yang diterminasi pervaginam, transmisinya mencapai 28,0%. Kendati demikian, dengan adanya bias yang tinggi pada penelitian-penelitian ini, belum disepakati untuk melakukan operasi Caesar rutin terhadap ibu-ibu hamil dengan hepatitis B.

Angka hepatitis B pada neonatus yang disusui ibunya 53%, tidak berbeda jauh dari angka hepatitis B pada neonatus yang mendapat susu formula (60%). Pada kelompok yang diberikan imunoprofilaksis, neonatus yang mengidap hepatitis B dan mendapatkan susu formula 3%, dan tidak ada infeksi sama sekali pada neonatus yang hanya mendapatkan air susu ibu. Ibu yang mendapatkan lamivudin atau tenofovir tidak direkomendasikan untuk menyusui, oleh karena masih sedikitnya data akan keamanan terapi antiviral pada ibu menyusui.

This entry was published on Februari 17, 2013 at 5:29 am. It’s filed under kelainan medis pada kehamilan and tagged . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Bagaimana pendapat Anda?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: